add section
Berita Ekonomi
Jamsostek Siap Memberli 6,42 Persen Saham PP Juga Akuisisi BNI Syariah dan Bukopin Syariah
16 Januari 2010
Jawapos.com, 16 Januari 2010
JAKARTA - PT Jamsostek (Persero) akhirnya menetapkan nama-nama bank yang sebagian sahamnya akan segera mereka akuisisi. Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga mengatakan, yang sudah hampir pasti adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk divisi syariah. Akuisisi sekitar 20-30 persen saham BNI Syariah tersebut akan dilakukan melalui perusahaan patungan atau join venture Jamsostek Investment Company (JIC).
Hotbonar mengatakan, untuk BNI Syariah, pihaknya memiliki tiga opsi penyertaan. "Kami (Jamsostek, Red) berpotensi menjadi pemegang saham melalui JIC. Selain itu, Jamsostek bisa masuk sendiri dan menggandeng ADB (Asian Development Bank, Red),'' katanya saat ditemui di gedung Badan Pengawas Pasar Modal Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), Jakarta, kemarin (15/1).
Opsi lainnya adalah bergabung ke BNI Syariah dengan investor lain. Hal itu dilakukan jika anak usaha ADB, yakni Islamic Corporation fot The Development (ICD) bergabung dengan BNI. Sebelumnya, ICD memang sudah menjadi calon mitra strategis BNI dalam rencana spin off unit divisi syariah.
Hotbonar menambahkan, Jamsostek juga berniat menjadi pemegang saham mayoritas Bukopin Syariah dengan mengincar kepemilikan lebih dari 50 persen saham. Sampai saat ini, perseroan tersebut telah memiliki sembilan persen saham pada bank tersebut. "Bukopin lebih berpotensi untuk diakuisisi dibanding BNI karena Jamsostek sudah memiliki penyertaan saham di perusahaan itu," katanya. Rencananya, PT Bank Bukopin Syariah akan diakuisisi pada semester II-2010.
Selain BNI Syariah dan Bukopin Syariah, Jamsostek juga berencana membeli 6,42 persen saham baru yang diterbitkan PT Pembangunan Perumahan (Persero) melalui penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO). Dana yang disiapkan Jamsostek mencapai Rp 100 miliar hingga Rp 200 miliar.
PP rencananya akan melepas 21,4 persen saham kepada publik. Sebanyal 51 persen saham tetap dimiliki pemerintah melalui kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sisanya dimiliki karyawan. "Jamsostek tetap berkomitmen untuk membeli saham-saham BUMN yang listing pada 2010, termasuk PP,'' tegasnya.
Namun dia mengaskan bahwa besaran tiap-tiap saham yang dibeli di masing-masing perusahaan tidak sama. Acuan utamanya adalah tingkat imbal hasil yang menarik.
JAKARTA - PT Jamsostek (Persero) akhirnya menetapkan nama-nama bank yang sebagian sahamnya akan segera mereka akuisisi. Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga mengatakan, yang sudah hampir pasti adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk divisi syariah. Akuisisi sekitar 20-30 persen saham BNI Syariah tersebut akan dilakukan melalui perusahaan patungan atau join venture Jamsostek Investment Company (JIC).
Hotbonar mengatakan, untuk BNI Syariah, pihaknya memiliki tiga opsi penyertaan. "Kami (Jamsostek, Red) berpotensi menjadi pemegang saham melalui JIC. Selain itu, Jamsostek bisa masuk sendiri dan menggandeng ADB (Asian Development Bank, Red),'' katanya saat ditemui di gedung Badan Pengawas Pasar Modal Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), Jakarta, kemarin (15/1).
Opsi lainnya adalah bergabung ke BNI Syariah dengan investor lain. Hal itu dilakukan jika anak usaha ADB, yakni Islamic Corporation fot The Development (ICD) bergabung dengan BNI. Sebelumnya, ICD memang sudah menjadi calon mitra strategis BNI dalam rencana spin off unit divisi syariah.
Hotbonar menambahkan, Jamsostek juga berniat menjadi pemegang saham mayoritas Bukopin Syariah dengan mengincar kepemilikan lebih dari 50 persen saham. Sampai saat ini, perseroan tersebut telah memiliki sembilan persen saham pada bank tersebut. "Bukopin lebih berpotensi untuk diakuisisi dibanding BNI karena Jamsostek sudah memiliki penyertaan saham di perusahaan itu," katanya. Rencananya, PT Bank Bukopin Syariah akan diakuisisi pada semester II-2010.
Selain BNI Syariah dan Bukopin Syariah, Jamsostek juga berencana membeli 6,42 persen saham baru yang diterbitkan PT Pembangunan Perumahan (Persero) melalui penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO). Dana yang disiapkan Jamsostek mencapai Rp 100 miliar hingga Rp 200 miliar.
PP rencananya akan melepas 21,4 persen saham kepada publik. Sebanyal 51 persen saham tetap dimiliki pemerintah melalui kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sisanya dimiliki karyawan. "Jamsostek tetap berkomitmen untuk membeli saham-saham BUMN yang listing pada 2010, termasuk PP,'' tegasnya.
Namun dia mengaskan bahwa besaran tiap-tiap saham yang dibeli di masing-masing perusahaan tidak sama. Acuan utamanya adalah tingkat imbal hasil yang menarik.
Kirim Komentar

Kurs

Agenda Pajak
Link Pajak 
Kirim ke teman