Tempat Belajar Pajak Secara Bijak

Pajak Indonesia

Berita Ekonomi printer friendly page

Profit Taking, Rupiah Kembali Melemah

16 Januari 2010
Okezone.com, 15 Januari 2010

Widi Agustian - Okezone



JAKARTA - Aksi ambil untung investor di pasar modal nampaknya membuat nilai mata uang rupiah mengalami penurunan pada akhir pekan ini. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), rupiah ditutup melemah ke level Rp9.205 per USD jika dibandingkan dengan perdagangan kemarin yang ditutup di Rp9.150 per USD.

Sementara itu, penutupan perdagangan pada Jumat (15/1/2010) sore untuk kurs jual rupiah terpantau berada di level Rp9.251, sedangkan kurs beli adalah Rp9.159 per USD.

Di sisi lain, menyamai gerak rupiah, indeks harga saham gabungan (IHSG) juga bersusah payah naik tipis yakni hanya 1,9 poin atau setara dengan 0,07 persen ke posisi 2.647,09. Dengan nilai perdagangan hanya sebesar Rp2,8 triliun, dengan volume sebanyak 5,2 milar lembar saham.

Seperti dikutip dari Valbury Securities, USD melemah terhadap yen karena data ekonomi AS yang kurang menarik dan akan memaksa the Fed mempertahankan suku bunga acuan tetap rendah untuk beberapa waktu ke depan.

Namun USD bertahan menguat atas euro setelah European Central Bank (ECB) mempertahankan tingkat suku bunga dan presiden ECB Jean-Claude Trichet yang menekankan kembali pentingnya USD yang kuat. ECB menetapkan suku bunga stagnan di level rekor terendah satu persen dalam delapan bulan berturut-turut.

Euro hanya sedikit bereaksi atas keputusan ECB tersebut namun melemah setelah Trichet berkomentar tentang perlunya USD yang kuat. Para analis mengatakan bahwa data retail sales yang dikombinasikan dengan dan payroll Desember yang lebih rendah dari perkiraan pasar, telah menaikkan concern atas prospek ekonomi global.

Di awal sesi pagi hari New York, USD turun 0,3 persen di level 91,13 yen sebelumnya menyentuh level 91,08, sementara mencatat intraday high di level 92,04 sebelum rilis data. Sentimen USD sebelumnya terpukul oleh komentar dari New York Federal Reserve Bank President William Dudley dan Chicago Federal Reserve President Charles Evan yang secara terpisah mengatakan bahwa bank sentral perlu kondisi pemulihan ekonomi yang kuat sebelum menaikkan suku bunga.
Share/Save/Bookmark

Kirim Komentar
Nama
Email
Komentar